Dampak Positif dan Negatif Pengaturan Pembelian Pertalite terhadap Kondisi Bisnis

Dampak Positif dan Negatif Pengaturan Pembelian Pertalite terhadap Kondisi Bisnis

Saat ini pelaku bisnis sedang menanti mekanisme dari kebijakan terkini dari pemerintah menyangkut subsidi BBM. Dasarnya adalah Kementerian Energi dan  Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan soal mekanisme pembelian satu jenis BBM per oktober 2024.

Kondisi bisnis yang ada di Indonesia beberapa hari ini dan kedepan memang sedang memperlihatkan kondisi yang penuh warna warni. Di mana salah satu warna   yang saat ini sedang  terjadi adalah rencana pemerintah untuk membatasi pembelian atau penggunaan salah satu BBM agar terjadi pemerataan penggunaan di dalam masyarakat. 

Mungkin maksud dan tujuannya baik, karena agar terjadi pemerataan penggunaan dengan mengesampingkan kondisi atau dampak  yang mungkin akan terjadi. Itulah yang menyebabkan kondisinya saat ini banyak pelaku bisnis  sedang bertanya – tanya seperti apa mekanisme yang akan di jalankan  pemerintah dengan adanya mekanisme baru dalam penggunaan dan pembelian salah satu  BBM di Indonesia. 

Dasarnya  bagi pemerintah sudah jelas,  yaitu ingin mengatur pembelian jenis BBM tertentu yaitu jenis pertalite khusus untuk lima katagori konsumen yang ada di Indonesia. Tujuannya jelas agar ke-5 kelompok tersebut bisa mendapatkan manfaat yang besar dengan adanya pengaturan pembelian BBM pertalite tersebut.  Meskipun kebijakan  ini hanya berlaku untuk jenis kendaraan  yang masuk dalam katagori kendaran roda empat tetapi tetap saja akan ada dampak yang di timbulkan dari kebijakan tersebut. 

Berdasarkan kondisi yang ada, setidaknya dari kebijakan  pengaturan pembelian dan pengaturan BBM jenis Pertalite ada dua hal yang mesti menjadi perhatian  semuanya : (1) Pembatasan pembelian jenis BBM Pertalite itu di dasarkan pada cubicle centimeter (cm3) alias berdasarkan CC kendaraan. Artinya untuk bahan bakar bensin, kendaraan yang pada akhirnya bisa membeli BBM subsidi adalah khusus kendaraan dengan maksimal 1.400 cc untuk kendaraan diesel spesifikasinya adalah maksimal 2.00 cc. (2) Berdasarkan spesifikasi tersebut, maka bisa di sebutkan beberapa kendaraan berikut bisa membeli atau memanfaatkan adanya kebijakan pengaturan BBM tersebut seperti kendaraan : 

No. Jenis Kendaraan Merek CC Kendaraan

1 Toyota Raize 998 dan 1.198 cc

2 Agya 1.197 cc

3 Calya 1.197 cc

4 Avanda 1.329 cc

5 Daihatsu Ayla 998 dan 1.197 cc

6 Sigra 998 dan 1.197 cc

7 Sirion 1.329 cc

8 Rocky 998 dan 1.198 cc

9 Xenia 1.329 cc

10 Wuling Formo S 1.206 cc

11 Suzuki Ignis 1.197 cc

12 S- Presso 998 cc

13 Honda Brio 1.199 cc

14 Mercedes Benz A- Class 1.332 cc

15 CLA 1.332 cc

16 GLA 200 1.332 cc

GLB 1.332 cc

17 KIA Picanto 1.248 cc

18 Seltos 1.353 cc

19 Picanto 1.248 cc

20 Seltos 1.353 cc

21 Rio 1.348 cc

22 Nissan Magnite 999 cc

Kicks e-power 1.198 cc

Sebenarnya ada dua hal yang seharusnya menjadi perhatian untuk kita semua terkait kebijakan yang akan mulai di laksanakan oleh pemerintah mulai 1 Oktober 2024.  Khususnya menyangkut materi   yang telah di usulkan dalam Perpres Nomor 191 Tahun 2014 mengenai masalah Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.  Dimana menyangkut kedua hal yang perlu menjadi perhatian kit aitu adalah : 

  1. Terkait ke-5 katagori konsumen yang termasuk dalam perpres tersebut yaitu Industri Kecil, Usaha Perikanan, Usaha Pertanian, Usaha Transportasi dan Usaha Pelayanan Umum. Karena ke-5 jenis bisnis ini memiliki karakteristis bisnis yang berbeda-beda sehingga perlu adanya satu mekanisme Teknik  dalam pelaksanaan di lapangan. Karena jika tidak akan bisa menimbulkan masalah baru. 
  2. Mengenai ke-5 jenis usaha tersebut, apakah memang sudah  final atau justru masyarakat atau pelaku bisnis bisa mengajukan sector industri lain agar tetap bisa menikmati subsidi seperti ke-5 jenis industri diatas. Jika memang bisa bagaimana mekanismenya agar bisa berjalan dengan baik dan lancar. 

Yang pasti apapun kebijakan yang akan di terapkan oleh pemerintah, seharusnya memang harus didasarkan pada satu kepentingan agar terjadi pemerataan yang adil. Sehingga kelompok masyarakat merasa terbantu dengan kebijakan tersebut, dan pelaku industripun turut merasakan dampak positif dari kebijakan tersebut. Jangan sampai justru sebaliknya dengan adanya kebijakan tersebut malah membuat ada golongan yang diuntungkan dan ada  yang dirugikan. Karena jika hal itu terjadi maka kebijakan yang diambil tidak akan memberikan dampak positif justru sebaliknya. 

Kenapa bisa terjadi dampak negative, karena pertimbangannya adalah ketika kondisi seperti itu terjadi ada pembatasan atau pengalihan dari Jenis BBM tertentu  yang sudah pasti  terjadi adalah : (1) Pelaku bisnis akan mengubah komposisi biaya yang sebelumnya sudah di susun berdasarkan harga BBM lama, ketika  terjadi perubahan maka pelaku bisnis akan berhitung ulang agar bisnisnya tidak mengalami kerugian.  (2) Dampak dari penyesuaian   harga yang di lakukan oleh pelaku bisnis jelas langsung terkena kepada konsumen. Karena merekalah yang akan langsung menggunakan atau membeli produknya.  Jadi meskipun rakyat menengah bahwa tidak terkena pembatasan ini, tetapi karena adanya perubahan yang terjadi pada pelaku bisnis maka yang akan menerima dampaknya langsung sudah pasti konsumen.   Sehingga memang alangkah baiknya ketika pemerintah ingin membuat atau melakukan perubahan atau penyesuaian  sebelum membuat satu kebijakan lakukan 3 hal terlebih dahulu : 

  1.  Cobalah untuk berhitung secara angka jika kebijakan di terapkan seperti apa dampak positif dan negative. Mana lebih menguntungkan dan merugikan
  2. Lakukan  sosialisasi dahulu sebelum di  terapkan sehingga semua pihak sudah siap dengan kondisi ketika kebijakan akan di terapkan
  3. Analisa dari percobaan yang di lakukan sehingga pada akhirnya pemerintah akan melihat akan di lanjutkan atau di laksanakan pada periode kapan. Semua itu harus di lakukan agar hasilnya bisa lebih maksimal dan bisa menyenangkan beberapa pihak walau tidak semua pihak karena itu tidak mungkin.

Contact Sales